![]() |
| Direktur Utama Telkom Indonesia, Dian Siswarini |
BEGINI.ID: Transformasi Telkom 2025 menjadi fondasi penting di balik kinerja positif PT Telkom Indonesia sepanjang tahun buku 2025. Di tengah tekanan ekonomi global dan tantangan industri telekomunikasi, Telkom tetap mampu menjaga pertumbuhan bisnis sekaligus mempercepat langkah transformasi perusahaan.
Perusahaan telekomunikasi pelat merah itu mencatat laba bersih atau net income sebesar Rp17,8 triliun dengan margin laba bersih 12,1 persen. Sementara itu, normalized net income mencapai Rp22,7 triliun dengan margin 15,4 persen.
Pencapaian tersebut ditopang pendapatan konsolidasi sebesar Rp146,7 triliun. Selain itu, EBITDA konsolidasi Telkom tercatat Rp72,2 triliun dengan margin EBITDA sebesar 49,2 persen.
Strategi TLKM 30 Jadi Motor Transformasi
Direktur Utama Telkom Indonesia, Dian Siswarini, menegaskan transformasi perusahaan menjadi fokus utama sejak 2025.
Menurut Dian, strategi TLKM 30 dirancang untuk memperkuat arah transformasi Telkom agar lebih terstruktur dan berkelanjutan.
“Lewat strategi TLKM 30, Telkom memantapkan arah transformasi yang lebih terstruktur untuk mengakselerasi terwujudnya visi sebagai penggerak ekosistem digital nasional yang berdaya saing global,” ujarnya.
Strategi tersebut berfokus pada empat pilar utama. Mulai dari penguatan tata kelola perusahaan, efisiensi bisnis, optimalisasi aset digital, hingga perubahan model perusahaan menjadi strategic holding.
Fokus Perkuat Bisnis Inti dan Efisiensi
Pada pilar kedua transformasi, Telkom melakukan penataan portofolio bisnis non-inti atau streamlining. Langkah ini dilakukan agar perusahaan lebih fokus memperkuat bisnis telekomunikasi dan digital.
Salah satu langkah strategis terlihat dari proses divestasi bisnis AdMedika dan TelkoMedika. Proses tersebut kini memasuki tahap Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA) menuju divestasi penuh pada semester pertama 2026.
Selain itu, Telkom juga mulai merampingkan sejumlah entitas bisnis yang dinilai tidak lagi sejalan dengan core business perusahaan.
Infrastruktur Digital Terus Diperkuat
Telkom juga mempercepat penguatan bisnis infrastruktur digital melalui konektivitas fiber dan data center. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi unlock value untuk meningkatkan pemanfaatan aset dan memperkuat kontribusi perusahaan dalam konektivitas nasional.
Pemisahan sebagian bisnis Wholesale Fiber Connectivity kepada InfraNexia menjadi salah satu langkah penting transformasi tersebut. Kesepakatan itu ditandai melalui penandatanganan Conditional Spin-off Agreement (CSA) pada Desember 2025.
Selain itu, TelkomGroup kini memiliki backbone serat optik lebih dari 210 ribu kilometer. Infrastruktur tersebut diperkuat jaringan menara telekomunikasi, satelit, layanan cloud, hingga data center yang tersebar di berbagai wilayah.
Telkomsel Jadi Penopang Segmen B2C
Di sektor konsumen, Telkomsel masih menjadi salah satu kontributor utama pendapatan perusahaan.
Sepanjang 2025, Telkomsel membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp109,2 triliun. Peningkatan kebutuhan layanan digital juga mendorong trafik data tumbuh 15 persen secara tahunan.
Selain itu, Average Revenue Per User (ARPU) mulai menunjukkan tren pemulihan positif sejak paruh kedua 2025.
Pada 2026, Telkomsel akan fokus menjaga kualitas jaringan dan melakukan penyesuaian harga yang lebih tepat sasaran untuk mempertahankan pelanggan.
Bisnis Data Center dan Menara Tumbuh Positif
Di segmen B2B Infrastructure, Telkom membukukan pendapatan Rp8,9 triliun atau tumbuh 9,2 persen secara tahunan.
Pertumbuhan tersebut didorong bisnis data center dan ekspansi fiber. Saat ini, TelkomGroup melalui NeutraDC mengelola fasilitas hyperscale data center di Cikarang dan Singapura, serta sejumlah enterprise data center di berbagai kota.
Selain itu, bisnis menara telekomunikasi melalui Mitratel juga mencatat kinerja positif. Mitratel membukukan pendapatan Rp9,5 triliun dengan EBITDA margin mencapai 82,2 persen.
Perusahaan tersebut kini mengelola lebih dari 40 ribu menara telekomunikasi dan menjadi perusahaan menara terbesar di Asia Tenggara.
Tetap Optimistis Hadapi Tantangan 2026
Meski menghadapi tantangan efisiensi anggaran pemerintah yang memengaruhi segmen B2B ICT, Telkom tetap optimistis terhadap pertumbuhan bisnis digital.
Perusahaan kini fokus memperkuat layanan Connectivity+, cybersecurity, Artificial Intelligence (AI), dan solusi digital lainnya melalui kerja sama strategis dengan perusahaan teknologi global.
Sepanjang 2025, Telkom juga menjaga disiplin investasi dengan realisasi belanja modal sebesar Rp27,5 triliun atau sekitar 18,8 persen dari total pendapatan.
Mayoritas investasi tersebut dialokasikan untuk memperkuat infrastruktur digital di segmen B2C, B2B Infrastructure, dan internasional.
“Di tahun 2026, Telkom berada pada fase penting dalam mengakselerasi dan melanjutkan eksekusi transformasi. Dengan disiplin operasional, kami semakin yakin dapat memperkuat daya saing dan menciptakan nilai yang berkelanjutan,” tutup Dian Siswarini.***
