Begini.ID Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Jangan Sepelekan! Ini 5 Efek Berbahaya Gangguan Kecemasan Bagi Tubuh

 Jangan Sepelekan! Ini 5 Efek Berbahaya Gangguan Kecemasan Bagi Tubuh

BEGINI.ID - Setiap orang mungkin saja pernah merasakan kecemasan dalam hidupnya. Namun ada batas kewajaran yang harus dijadikan patokan, Ladies. Bisa dikatakan wajar apabila kecemasan yang dirasakan tidak berlangsung lama dan terjadi akibat sesuatu yang lumrah adanya. Misalnya sesaat akan melakukan wawancara kerja, presentasi di hadapan klien ataupun yang lainnya. 

Namun apabila kecemasan terjadi terus menerus dan intens, maka kamu harus waspada. Gejala yang awalnya berupa pernapasan dan detak jantung yang meningkat bisa berubah menjadi rasa pusing, mual dan dalam jangka waktu panjang bisa berbahaya bagi kesehatan tubuh. Apa saja bahaya gangguan kecemasan bagi tubuh jika terus dibiarkan? Simak selengkapnya di bawah ini.

1. Gangguan Sistem Syaraf Pusat

Gangguan kecemasan bisa berdampak pada sistem syaraf pusat/freepik.com
Gangguan kecemasan/freepik.com

Gangguan kecemasan jangka panjang dapat menyebabkan otak melepaskan hormon stres secara teratur. Hal ini kemudian dapat meningkatkan frekuensi gejala seperti sakit kepala, pusing, dan depresi. Ketika cemas dan stres, otak membanjiri sistem saraf dengan hormon dan bahan kimia, yang dirancang untuk membantu merespons ancaman.

Dua di antaranya adalah hormon adrenalin dan hormon kortisol. Paparan jangka panjang hormon stres ini bisa lebih berbahaya bagi kesehatan fisik. Misalnya, paparan kortisol jangka panjang dapat berkontribusi pada penambahan berat badan.


2. Risiko Penyakit Jantung

Pengaruh gangguan kecemasan bisa terjadi pada sistem kardiovaskular/freepik.com
Pengaruh gangguan kecemasan/freepik.com

Gangguan kecemasan dapat menyebabkan detak jantung yang cepat, palpitasi, dan nyeri dada. Selain itu,  risiko tekanan darah tinggi dan penyakit jantung menjadi meningkat. Apabila yang mengalami gangguan kecemasan mengidap penyakit jantung, maka risiko terjadinya penyakit jantung koroner menjadi lebih tinggi.

3. Masalah Pencernaan

Sistem pencernaan juga bisa dipengaruhi oleh gangguan kecemasan/freepik.com
Sistem pencernaan/freepik.com

Gangguan kecemasan juga dapat mempengaruhi sistem ekskresi dan pencernaan. Hal ini bisa ditandai dengan sakit perut, mual, diare, dan masalah pencernaan lainnya. Kehilangan nafsu makan juga bisa terjadi, Ladies.

Selain diyakini pula bahwa ada hubungan antara gangguan kecemasan dan perkembangan sindrom iritasi usus (IBS). Sebagaimana yang diketahui, IBS ini dapat menyebabkan muntah, diare dan juga sembelit.

4. Melemahkan Kekebalan Tubuh

Sistem imun bisa menurun akibat gangguan kecemasan/freepik.com
Sistem imun/freepik.com

Sistem berikutnya yang bisa terdampak dari gangguan kecemasan adalah sistem kekebalan tubuh. Gangguan kecemasan dapat memicu respons stres dengan melepaskan banyak bahan kimia seperti hormon adrenalin.

Dalam jangka pendek, hal ini dapat meningkatkan denyut nadi dan laju pernapasan, sehingga otak mendapatkan lebih banyak oksigen. Alhasil, sistem kekebalan akan mendapatkan dorongan singkat. Jika frekuensi stres masih jarang, tubuh masih sangat mungkin untuk berfungsi normal ketika stres berlalu.

Namun hal berbeda bisa terjadi apabila stres dan cemas berulang kali dirasakan. Hal ini dapat menyebabkan tubuh kesulitan mendapat sinyal untuk kembali berfungsi normal. Pada akhirnya hal ini dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi virus dan penyakit. Bahkan, vaksin reguler pun kemungkinan sulit berfungsi dengan baik apabila terjadi gangguan kecemasan.

5. Gangguan pada Pernapasan

Ilustrasi sistem pernapasan bisa terganggu akibat gangguan kecemasan/freepik.com
Ilustrasi sistem pernapasan/freepik.com

Nah, satu lagi sistem yang juga bisa terpengaruh dari adanya gangguan kecemasan adalah sistem pernapasan. Gangguan kecemasan bisa menyebabkan pernapasan menjadi lebih cepat dan pendek.

Apabila penderita gangguan kecemasan memiliki penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), maka hal ini dapat meningkatkan risiko rawat inap, karena terkait dengan  komplikasi kecemasan. Selain itu, gangguan kecemasan juga dapat memperburuk gejala asma.

www.Begini.ID