5 Kandungan pada Skincare yang Perlu Diwaspadai Penggunaannya Menurut Ahli Dermatologi


BEGINI.ID - Kandungan pada skincare merupakan bagian terpenting yang harus diperhatikan saat memilih produk perawatan kulit. Hal tersebut dikarenakan, kandungan inilah yang menunjukkan seberapa relevan bahan-bahan yang digunakan dengan klaim yang diberikan.

Sebisa mungkin, selektif dan cermatlah saat kamu melihat kandungan yang ada dalam skincare. Kewaspadaan juga perlu untuk menghindari kesalahan memilih kandungan skincare yang tergolong berpotensi membahayakan kulit.

Dirangkum dari Hellogiggles, beberapa bahan yang berpotensi berbahaya untuk kulit kadang diberi label dengan nama yang berbeda. Dengan demikian, sudah saatnya Beauties mengetahui berapa kandungan skincare yang perlu diwaspadai penggunaannya menurut ahli dermatologis. Simak selengkapnya di bawah ini

1. Formaldehyde

Ilustrasi bahan skincare/ Foto: Freepik.com
Ilustrasi bahan skincare/ Foto: Freepik.com

Kandungan skincare pertama yang perlu diwaspadai menurut ahli dermatologis adalah formaldehyde. Kandungan yang satu ini merupakan karsinogen yang sudah dikenal luas. Salah seorang dermatologis yaitu Petersen Pierre, M.D menjelaskan bahwa formaldehyde ini banyak ditemukan dalam produk kosmetik.

Kandungan ini bisa menyebabkan iritasi dan kemerahan pada kulit. Bahkan, basis data kosmetik kulit dalam kelompok kerja lingkungan memberikan skor toksikologi  8-10 dari 10 untuk formaldehyde ini.

Kewaspadaan akan kandungan formaldehyde ini perlu semakin ditingkatkan karena biasanya tidak ditulis secara gamblang melainkan hadir dalam bentuk bahan-bahan yang dapat melepaskan formaldehyde itu sendiri seperti quaternium-15, DMDM-hydantoin, diazolidinyl urea dan imidazolidinyl urea.



2. Oxybenzone dan Avobenzone

Kandungan bahan skincare/ Foto: Freepik.com
Kandungan bahan skincare/ Foto: Freepik.com

Selanjutnya ada oxybenzone dan avobenzone. Kedua kandungan ini cukup populer untuk produk tabir surya. Namun sayangnya, menurut Dr. Pierre, kandungan ini harus diwaspadai karena dapat dikaitkan dengan gangguan hormon dan reaksi alergi pada beberapa pengguna.

Lebih lengkap dijelaskan bahwa oxybenzone telah terbukti menjadi bahan kimia pengganggu endokrin yang berkaitan dengan endometriosis, pubertas dini pada anak perempuan, jumlah sperma yang rendah dan infertilitas pria dan peningkatan kanker terkait hormon.

Tidak hanya mengganggu hormon, oxybenzone juga terbukti memiliki efek berbahaya pada lingkungan. Sebuah studi pada tahun 2016 mencatat bahwa oxybenzone dan dapat berbahaya bagi terumbu karang. Dengan demikian, Dr. Pierre merekomendasikan untuk memilih produk tabir surya yang berbasis mineral agar lebih aman.

3. Paraben

Ilustrasi kandungan skincare/ Foto: Freepik.com
Ilustrasi kandungan skincare/ Foto: Freepik.com

Kandungan paraben juga patut diwaspadai. Kandungan ini biasa digunakan sebagai pengawet untuk memperpanjang umur simpan produk kosmetik dan farmasi. Dr. Pierre sendiri memperingatkan bahwa paraben diketahui mempunyai efek berbahaya pada tubuh manusia karena dikaitkan dengan reaksi alergi terutama pada kulit yang rusak.

Meski demikian, saat ini Food and Drug Administration (FDA) menunjukkan bahwa penelitian tentang efek paraben terhadap kesehatan manusia masih terbatas. Dengan kata lain, belum ada jawaban pasti bahwa bahan tersebut memang benar sangat berbahayakah bagi kesehatan.

Namun apabila ingin menghindari paraben sama sekali, mungkin saja bisa menjadi pilihan yang aman hingga nanti sudah ada penelitian atau fakta terbaru yang menunjukkan bahwa paraben benar-benar aman atau sebaliknya.

4. Pewarna Sintetis

Ilustrasi produk kosmetik/ Foto: Freepik.com
Ilustrasi produk kosmetik/ Foto: Freepik.com

Meskipun pewarna sintetis telah disetujui untuk digunakan oleh FDA (Food and Drug Administration) untuk penggunaan kosmetik, makanan dan farmasi, Dr. Pierre tetap menyarankan bahwa pewarna sintetis masih memiliki kemungkinan risiko terhadap kesehatan.

Lebih lanjut ia memperingatkan untuk hati-hati dengan bahan apapun yang dimulai dengan FD&C atau D&C diikuti dengan warna dan nomor. Menurutnya, penamaan itu adalah warna buatan yang berasal dari minyak bumi atau batubara yang diketahui dapat mengiritasi kulit dan bersifat karsinogen.

Saat ini, telah banyak produk yang bebas pewarna. Biasanya, para brand-brand perawatan kulit memilih untuk menggunakan warna yang bersumber dari pigmen buah, sayuran, kakao dan teh.

5. Triclosan

Ilustrasi kandungan produk skincare/ Foto: Freepik.com
Ilustrasi kandungan produk skincare/ Foto: Freepik.com

Ahli dermatologis Jessie Cheung, M.D menjelaskan bahwa triclosan biasanya ditemukan dalam produk sabun anti bakteri dan produk perawatan lainnya seperti kosmetik, deodorant dan pasta gigi. Namun, kandungan ini perlu diwaspadai karena terkait dengan gangguan hormon.

Meskipun sudah dilarang oleh FDA untuk digunakan pada produk sabun rumah tangga, namun bahan ini kemungkinan masih bisa dijumpai pada produk lainnya, tidak terkecuali kosmetik. Dengan demikian, perlu lebih hati-hati dan membaca dengan teliti setiap kandungan produk yang tertera pada kemasan. 

Bahaya dari triclosan ini juga tidak sekedar terkait dengan gangguan hormon. Sebuah studi pada tahun 2018 juga mencatat bahwa paparan triclosan dapat efek berbahaya pada respon imun dan fungsi kardiovaskular.

Lebih baru Lebih lama