Pagelaran Teknovasi 2026 Polibatam Dibuka, Inovasi Mahasiswa Didorong Berdampak



BATAM – Pagelaran Teknovasi 2026 Politeknik Negeri Batam (Polibatam) resmi dibuka, Senin, 31 Agustus 2026. Kegiatan yang berlangsung hingga 2 September itu mempertemukan mahasiswa, perguruan tinggi, industri, pemerintah, serta mitra dari dalam dan luar negeri.

Polibatam mengemas kegiatan ini bukan sekadar sebagai ajang pameran dan kompetisi. Kampus ingin mempertemukan karya mahasiswa dengan kebutuhan industri dan masyarakat.

Direktur Polibatam, Ir. Bambang Hendrawan, mengatakan pendidikan vokasi harus bergerak bersama industri, pemerintah, komunitas, dan masyarakat.

“Pendidikan akan semakin relevan dan berdampak ketika kampus, industri, pemerintah, komunitas, dan masyarakat bergerak bersama,” kata Bambang.

Kampus, Industri, dan Mahasiswa Bertemu



Sejumlah perguruan tinggi mitra dari Singapura dan Malaysia ikut hadir. Di antaranya Singapore Polytechnic, Nanyang Polytechnic, National University of Singapore, dan Universiti Teknologi PETRONAS.

Polibatam juga melibatkan 11 mitra industri dan sejumlah perguruan tinggi di Batam. Kolaborasi itu antara lain diarahkan untuk memperkuat pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan perguruan tinggi.

Selama tiga hari, Polibatam menggelar berbagai agenda. Rangkaian tersebut mencakup Polibatam Industrial Festival, Job Fair, seminar nasional, Politeknik Creative Festival, serta International Project Based Learning Expo.

Job Fair menjadi ruang bagi mahasiswa dan masyarakat untuk bertemu dengan dunia kerja. Sementara itu, seminar nasional mengangkat tema open hardware untuk pendidikan di Nusantara.

Namun, International Project Based Learning Expo menjadi salah satu agenda utama. Kegiatan tersebut sudah memasuki penyelenggaraan keenam.

Bambang berharap karya yang lahir dari kegiatan itu tidak berhenti di ruang pamer.

“Kami berharap ini tidak sekadar menjadi event rutin, tetapi menjadi titik di mana kolaborasi terus bergulir,” ujarnya.

Polibatam Mulai Mengukur Dampak



Bambang juga memaparkan perubahan pendekatan Polibatam dalam mengukur kinerja kampus.

Kampus tidak lagi hanya menghitung jumlah mahasiswa, lulusan, atau penelitian. Polibatam mulai melihat dampak pendidikan melalui tiga aspek, yaitu sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Dari sisi sosial, lulusan program afirmasi seperti KIP Kuliah dan ADik tercatat terserap lebih dari 85 persen dalam waktu kurang dari satu tahun setelah lulus.

Polibatam juga mencatat 470 mahasiswa aktif sebagai relawan. Mereka menghasilkan sekitar 37.600 jam pengabdian efektif.

Selain itu, terdapat sembilan kontribusi terhadap kebijakan publik yang didukung melalui 26 penelitian dan pengabdian kolaboratif.

“Jadi kita tidak mengukur lagi berapa jumlah lulusan atau berapa jumlah penelitian. Kita sudah mengukur dampaknya,” kata Bambang.

Dari sisi ekonomi, tingkat keterpekerjaan lulusan Polibatam pada 2025 mencapai 86,99 persen.

Sebanyak 51 produk penelitian juga telah dimanfaatkan masyarakat dan mitra industri.

Aktivitas mahasiswa diperkirakan memberikan kontribusi sekitar Rp264,5 miliar per tahun terhadap ekonomi lokal. Polibatam juga mencatat rasio imbal hasil dana riset sebesar 1,29.

Sementara itu, belanja institusi untuk UMKM mencapai sekitar Rp115 miliar sepanjang 2025.

Kurangi Sampah, Manfaatkan Energi Surya



Polibatam juga mulai mengukur dampak lingkungan dari kegiatan kampus.

Salah satu hasilnya terlihat dari pengurangan sampah plastik sebesar 55,96 persen.

Kampus juga memanfaatkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan produksi sekitar 75.000 kWh per tahun.

Selain itu, lebih dari 70 persen mata kuliah telah terintegrasi dengan tema lingkungan.

Bambang mengakui capaian tersebut masih menjadi langkah awal. Namun, Polibatam ingin memperluas manfaatnya kepada masyarakat.

“Pelan-pelan kita akan terus upayakan supaya apa yang kita lakukan di sini bukan hanya untuk kita sendiri di kampus, tetapi juga untuk masyarakat di sekitar kita,” ujarnya.

Bakorma: Jangan Hanya Bawa Pulang Medali

Ketua Badan Koordinasi Kemahasiswaan Politeknik Se-Indonesia (Bakorma), Dr. Tomy Andrianto, menilai Teknovasi 2026 mencerminkan karakter pendidikan vokasi.

Menurutnya, pendidikan vokasi harus dekat dengan industri dan menghasilkan karya yang berguna.

“Vokasi tidak boleh berjalan sendiri. Kampus harus dekat dengan industri, pembelajaran harus melahirkan karya dan inovasi, dan inovasi pada akhirnya harus memberikan manfaat kepada masyarakat,” kata Tomy.

Ia menilai Teknovasi menarik karena menggabungkan pendidikan, kompetisi, kreativitas, inovasi, industri, karier, dan kolaborasi dalam satu rangkaian.

Tomy kemudian berpesan kepada mahasiswa agar tidak sekadar mengejar kemenangan.

Mahasiswa, kata dia, harus menjaga integritas dan sportivitas. Selain itu, mereka harus membangun jaringan.

“Jangan hanya pulang membawa medali, sertifikat, atau foto kegiatan. Bawalah teman baru, ilmu baru, serta peluang kerja dan kolaborasi baru,” ujarnya.

Ia juga meminta mahasiswa mengembangkan karya hingga menjadi solusi yang bisa digunakan industri dan masyarakat.

Pemko Batam Siapkan Talenta Hinterland

Asisten I Pemko Batam, Yusfa Hendri, mengatakan teknologi, inovasi, dan kecerdasan buatan akan menjadi bagian penting dari masa depan Batam.

Karena itu, generasi muda tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka harus mampu menciptakan teknologi dan melahirkan inovasi.

“Generasi muda Batam harus menjadi generasi yang unggul. Tidak saja sebagai pengguna teknologi, tetapi juga harus mampu menjadi pencipta teknologi, inovator, dan agen perubahan transformasi digital,” katanya.

Yusfa menilai kebutuhan talenta semakin besar seiring perkembangan Batam sebagai kawasan industri, perdagangan, jasa, galangan kapal, pariwisata, dan pusat data.

Kondisi tersebut membuat pendidikan vokasi memiliki posisi strategis.

“Pendidikan di Batam menjadi kunci untuk memenangkan persaingan di masa yang akan datang,” ujarnya.

Pemko Batam pun mulai bekerja sama dengan Polibatam untuk memberikan kesempatan pendidikan kepada pelajar berpotensi dari wilayah hinterland.

Program tersebut menyasar siswa dari delapan SMA di Belakang Padang, Galang, dan Bulang.

Tahun ini, sebanyak 28 mahasiswa dari wilayah hinterland diterima di Polibatam.

Yusfa berharap program tersebut terus berkembang. Dengan begitu, kesempatan memperoleh pendidikan tinggi tidak hanya terbuka bagi masyarakat di mainland Batam.

“Kami berharap keinginan anak-anak untuk meraih masa depan tidak terhalang persoalan ekonomi,” katanya.

Menteri: Inovasi Harus Memberi Manfaat

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D., menyampaikan apresiasi melalui sambutan yang direkam karena tidak dapat hadir langsung.

Menurut Brian, Teknovasi 2026 mempertemukan tiga kekuatan penting, yakni kampus, industri, dan generasi muda.

Ia menilai kolaborasi tersebut penting untuk membangun pendidikan vokasi yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat.

“Politeknik Negeri Batam memiliki posisi penting untuk melahirkan talenta yang kompeten sekaligus melahirkan inovasi yang menjawab kebutuhan nyata industri dan masyarakat,” ujarnya.

Brian meminta karya mahasiswa tidak berhenti sebagai pameran atau kompetisi.

Karya tersebut harus dikembangkan dan dipertemukan dengan mitra yang tepat. Dengan begitu, inovasi dapat memberikan manfaat yang lebih luas.

“Sebab, ukuran inovasi bukan hanya kecanggihannya, tetapi manfaat yang dihasilkannya,” katanya.

Ia juga meminta mahasiswa terus belajar, mencoba, dan berkarya.

“Jangan takut gagal. Banyak inovasi besar justru lahir dari keberanian mengambil langkah pertama,” ujarnya.

Brian kemudian secara resmi membuka Pagelaran Teknovasi Politeknik Negeri Batam 2026.

“Selamat berkarya dan berkolaborasi. Semoga dari kegiatan ini lahir semakin banyak inovasi yang membawa kemajuan bagi Indonesia,” katanya.(Bos) 

Lebih baru Lebih lama