KSM Masuk KEN 2026, Pengamat Dorong agar Lebih Berkelas Internasional



BEGINI — Kenduri Seni Melayu (KSM) yang masuk dalam agenda Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 dinilai masih perlu pembenahan serius agar benar-benar berdampak pada peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Selama ini, kemasan acara KSM dinilai belum optimal dan cenderung hanya menjadi hiburan lokal.

Pengamat Pariwisata Kepulauan Riau, Buralimar, menilai bahwa KSM memiliki potensi besar sebagai magnet pariwisata budaya. Namun, potensi tersebut belum tergarap maksimal karena konsep dan pengelolaan acara belum diarahkan secara profesional dan berorientasi pasar wisata.

Menurutnya, sebuah event budaya yang masuk kalender nasional semestinya mampu menjawab kebutuhan pasar wisata, bukan semata mengikuti keinginan penyelenggara.

Perlu Kembali ke Pakem dan Kualitas Seni

Buralimar menegaskan bahwa KSM sejak awal memiliki pakem yang kuat sebagai perayaan budaya Melayu. Ragam seni seperti tarian, nyanyian, puisi, hingga permainan rakyat seharusnya ditata secara terstruktur dan tidak dicampur aduk tanpa konsep yang jelas.

Mantan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri ini mengingatkan bahwa pada periode 2000–2010, KSM pernah mencapai masa kejayaan karena menghadirkan seniman yang benar-benar berkualitas, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Saat itu, KSM menyuguhkan penyair ternama, sanggar yang diakui secara nasional, serta talenta seni yang memiliki bobot dan reputasi.

“Setiap ragam budaya memiliki hari dan panggungnya sendiri. Penataan seperti ini membuat pesan budaya Melayu tersampaikan dengan kuat dan bermartabat,” ujarnya.

Ia juga mencontohkan keterlibatan seniman besar seperti almarhum Idang Rosyidi dan Henry Lamiri sebagai bukti bahwa KSM pernah menjadi ruang prestisius bagi seni budaya Melayu.

Dorong Pengelolaan Profesional dan Promosi Dini

Buralimar, Pengamat Pariwisata Kepri yang juga mantan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri.



Lebih lanjut, Buralimar menilai usia KSM yang telah mencapai seperempat abad seharusnya menjadi momentum untuk mengembalikannya sebagai event budaya internasional. Menurutnya, pengelolaan acara harus melibatkan tenaga profesional yang memiliki rekam jejak di forum nasional maupun internasional.

Ia mendorong keterlibatan musisi, kurator seni, dan penyair yang telah teruji kualitasnya. Selain itu, penyelenggara perlu menyusun konsep acara secara matang, lengkap dengan skenario, rundown yang rapi, serta target wisatawan yang terukur.

“Promosi tidak bisa dilakukan mendadak. Sejak awal harus jelas konsepnya, panggungnya di mana, destinasi apa yang digunakan, dan berapa target wisman yang ingin dicapai,” tegasnya.

Buralimar juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, khususnya antara insan pariwisata dan pelaku budaya, agar KSM tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi benar-benar menjadi etalase budaya Melayu yang berdaya saing global.

Dengan pengelolaan yang profesional, terkonsep, dan berorientasi pasar wisata, KSM dinilai mampu kembali menjadi kebanggaan daerah sekaligus penggerak pariwisata Kepulauan Riau di tingkat internasional.(kyy)

Lebih baru Lebih lama